jump to navigation

Bangunan haram di tanah terlarang Gunung Salak Endah Pamijahan Bogor menimbulkan polemik dikalangan warga. Februari 9, 2010

Posted by sonasnews in Uncategorized.
trackback

gunung salak diselimuti kabut

gunung salak diselimuti kabut

Bak buah Simalakama itulah yang ditimbulkan dari Bangunan haram di tanah terlarang Gunung Salak Endah Pamijahan Bogor terhadap warga sekitar.  Satu sisi ada warga yang meraup rezeki dari keberadan vila liar di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak – TNGHS namun tidak sedikit pula masyarakat menyerukan kerusakan alam.  Berdasarkan data warga setempat yang diperoleh Sonas News dari berbagai sumber ada tanah dan bangunan yang dimiliki Mantan pejabat tinggi  Politisi Senayan dan artis seperti ketua pansus Century Idrus Marham dengan luas tanah 4 ribu meter, Mantan Menteri Zarkasih Nur mempunyai tanah 3 Hektar, Politisi Rizal Marangeng dengan luas tanah 5 Hektar, Sedangkan dikalangan artis, Graces Simon luas tanah 5 ribu meter, Ahmad Albar 7 ribu meter, Harry Capri 2 hektar.  Salah seorang penjaga vila Rohman mengatakan sehari – hari memang bertugas mengurus rumah dan tanah Ahmad Albar dan Harry Capri.

Selama bertugas jarang sekali dirinya bertemu dengan sang majikan sebab belum tentu sebulan sekali mengunjungi vila.  Menurut Rohman merasa risih dengan adanya isu vila liar sebab bukan tidak mungkin akan kehilangan mata pencarian jika tempat bekerjanya dibongkar.  Terlebih masalah Izin Mendirikan Bangunan merupakan urusan sang majikan.


Sedangkan pada sisi lain tokoh pemuda pamijahan Buchory Muslim mengaku cemas akan kerusakan lingkungan akibat adanya resapan air yang tertutup bangunan.  Saat ini saja sudah terlihat dampak seperti udara tidak sejuk lagi dan berkurangnya debit air.

Namun Buchory juga berharap pemerintah pusat dan daerah memikirkan para penjaga vila yang bisa dikembalikan sebagai petani penggarap.

Sementara itu pendataan bangunan haram di tanah terlarang Gunung Salak Endah pun terus dilakukan Dinas Tata Bangunan dan Permukiman Kabupaten Bogor untuk memastikan status kepemilikan vila liar itu.

Komentar»

1. mustea - Februari 20, 2010

kalau memang vila – vila liar itu dinyatakan haram, memang tempt tersebut. sering dipake melakukan yang haram maka pemerintah perlu bertindak dan adil bila pemerintah komitmen melestarikan alam dan lingkungan. disamping vila haram juga tidak luput warung remeng – remeng pun ada apalagi penjual miras, transaksi narkoba secara sembunyi – sembunyi baik yang dibawa oleh pengunjung ataupun penduduk perjudian pun tidak luput yang dilakukan oleh penduduk orang luarpun oke.
Dampak dibukanya wisata GSE satu sisi dapat meningkatkan ekonomi warga sekitar, disisi lain banyak negatifnya terutama terhadap moral generasi muda tidak sedikit pengunjung itu bergaul secra bebas berbusana yang tidak layak yang merusak norma adat dan norma agama juga bagi orang – orang Borjuis aslias Kapitailis dan berjiwa serakah mereka berloma mendirikan vila untuk menambah inkam individunya mereka tidak boleh merusakan hutan dan lingkungan karena kawasan tersebut, kawasan serapan air dengan demikian kalau memang vila – vila liar itu dinyatakan haram tidak ada salahnya kalau dimusnahkan dan wisata GSE pun lebih baik di TUTUP dari pada jadi simalakama/bumerang terhadap rakyat dan negara.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: